Kamis, 27 Agustus 2015

Stop Jajan! Menyelamatkan Generasi Bangsa

Anak-anak merupakan aset terpenting bagi negara. Mereka sebagai generasi penerus  yang akan mewarisi bangsa ini kedepannya. Sehingga hal yang menyangkut anak-anak apalagi pada aspek kesehatan  menjadi masalah krusial bagi bangsa. Salah satu yang mengancam kesehatan anak-anak adalah jajanan yang dijual di sekitar mereka baik makanan maupun minuman. 
Dikutip dari www.republikapenerbit.com, BPOM memiliki program gebyar aksi nasional PJAS (Pangan jajanan anak sekolah) untuk mengurangi penjualan makanan dan minuman berbahaya bagi anak sekolah. BPOM telah mencatat sekolah yang memenuhi syarat untuk jajanan sehat anak sekolah sebanyak 16.993 di sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah seluruh Indonesia. Program ini telah melindungi 2,8 juta siswa namun masih jauh dari harapan karena belum mencapai 10 persen dari jumlah keseluruhan sekolah sebanyak 180 ribu. Berdasarkan hasil pengawasan BPOM pada 2008-2010,  didapati 40 - 44 % sampel PJAS yang telah diuji tidak memenuhi syarat.


Semua ini disebabkan para penjual mengesampingkan larangan penggunaan bahan kimia berbahaya dan melanggar batas aman dari bahan tambahan pangan yang diperbolehkan demi mengejar keuntungan semata. Sebagai contoh penggunaan pewarna tekstil (rodhamin B) untuk memberikan warna terang mencolok pada makanan dan minuman, borak untuk mengenyalkan bakso dan tahu , formalin untuk mengawetkan mei, siklamat sebagai pemanis dan bahan kimia berbahaya lainnya.
Dampaknya, janjanan anak-anak sudah menjadi racun yang perlahan tapi pasti merusak kesehatan mereka. Selain itu juga dapat menurunkan konsentrasi belajar, kecerdasan dan fungsi otak. Lazim kita jumpai usia produktif sudah divonis penyakit-penyakit yang menakutkan seperti kanker, gagal ginjal, tidak berfungsinya imunitas dan penyakit degeratif lainnya.
Oleh sebab itu, hal ini harus menjadi fokus pemerintah demi menjaga kesehatan dan keselamatan generasi bangsa. Bayangkan jika tidak ditanggulangi dan dikontrol dengan hukum yang ketat maka bangsa ini pada 20 - 30 tahun kedepan hanya akan memiliki generasi yang lemah fisik dan mental serta penyakitan. Sehingga bangsa ini akan jauh dari makmur dengan kemiskinan semakin mengakar kuat. Apakah kita akan mengimpor tenaga kerja asing lagi untuk mengolah sumber daya alam kita? Apa kita hanya akan disibukkan mencari finansial untuk pengobatan bukan lagi untuk kemakmuran?, Tentu tidak !.
Langkah awal untuk menghindarkan generasi kita dari jajanan berbahaya pertama dimulai dari keluarga. Khususnya orangtua yang memiliki peran besar dalam mengawasi dan memperkenalkan jajanan sehat. Kemudian peran sekolah untuk memberikan edukasi kepada siswa, guru dan penjual makanan di kantin sekolah. Selain itu, sekolah harus memiliki regulasi terhadap makanan yang boleh di jual di sekitar sekolah baik di dalam maupun di luar pagar sekolah. Terakhir, pemerintah harus memiliki peraturan yang tegas terhadap para pelaku yang menyimpang dalam penggunaan food additive berlebihan dan bahan kimia berbahaya. Sehingga para penjual dan pembuat jajanan tersebut akan berpikir ulang untuk melakukan kecurangan dan kejahatan pangan.


Foto : https://www.flickr.com/photos/qwunuz/8251105485

Rabu, 03 Juni 2015

Curhat boleh donk



Pagi ini aku kembali gamang. Sudah beberapa istiharah ku lalui dan bahkan telah kusimpulkan keputusanku. Tapi.. Kegamangan itu masih saja hadir. Entah mau dibilang plin-plan atau apalah itu. Yang pasti aku masih belum mengerti mauku.


Guy, aku seorang ibu rumah tangga yang memiliki seorang anak laki-laki berusia 1,5 tahun.  Syiraz namanya, dia begitu aktif dan sangat antusias dengan hal baru, apapun itu. Bahkan sekedar mengerakkan alis. Bisa membuatnya tak berhenti meniru hingga ia bisa melakukannya. Begitulah anakku yang selalu mengisi hariku dengan tawanya, kepolosan, hingga jeritan  disaat ia sudah tidak sabar  menungguku selesai masak di dapur. Hari - hari ku habiskan dengannya, mulai membuka mata (terbangun saat dia minta asi) dan tertidur kembali bersamanya sambil memberi asi. Aktivitas pagi ku mulai dengan belanja sayur mayur, membeli sarapan, muter-muter komplek bersama suami dan anakku. Setelah itu kami sarapan bersama, kemudian suami bergegas untuk bersiap-siap ke kantor dan aku sembari menyetrika atau menyuapkan makanan ke Syiraz. Setelah itu, mengantar suamiku berangkat kerja. Lanjut, memberi asi dan menidurkan Syiraz. Kandang aku juga ikut tertidur hingga tanpa sadar sudah berlalu 1-2 jam. Aku bangun dengan perasaan gundah. Gundah karena rumah belum rapi, masakan belum jadi, cucian numpuk dan bahkan diriku pun belum sempat mandi. Ahhh...memang melelahkan menyandang status istri plus ibu.

Siang harinya aku menemani anakku bermain dengan anak tetangga. Menjelang sore Syiraz kembali tidur dan aku bersiap-siap menyambut suamiku. Magrib hendak hadir petanda malam akan menyelimuti. Tak jarang saat itu, pekerjaan rumah belum beres, malah semakin menumpuk. Banyak baju belum di setrika. Jangankan di setrika, dilipatpun belum tentu.
Bisa dibayangkan betapa berantakan rumah. Bisa dibayangkan betapa buruknya aku mengatur rumah. Bisa dibayangkan aku seorang yang lelet. Bisa dibayangkan aku belum mampu menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

Kalau kejenuhan akan pekerjaan rumah yang tak pernah habisnya menyeruap dalam pikiranku. Mulai kegamangan yang ku utarakan diatas hadir kembali. Gamang atas keinginanku untuk berkerja, gambang untuk menjadi ibu rumah tangga saja, gamang akan tujuanku. Sedih memang, aku yang dulu saat kuliah begitu aktif. Kegiatan demi kegiatan ku lakukan baik di dalam kampus maupun diluar kampus. Sudah bukan hal asing lagi keluar kos jam 6 pagi pulang jam 9 malam. Kadang pulang hanya untuk mandi sore saja. Tiap hari selalu bertemu banyak orang, berkomunikasi dan berinteraksi mengenai hal baru baik ilmu umum maupun ilmu agama. Aku yang selalu antusias dengan hal baru, lingkungan baru dan orang baru.

Tapi kini bisa dikatakan hanya hitungan jari aku berkomunikasi dengan orang. Pernah hanya dengan suami dan anakku saja. Aku berusaha mengobati kejenuhan dengan bisnis online. Tapi itu belum bisa menghilangkan rasa hausku akan kebebasan untuk berkreasi diluar sana. Ya..memang bisnis online hingga sekarang tetap berjalan.

Tapi aku tetap merasa menjadi lebih bodoh. Apalagi saat ini yang kulakukan itu dan itu saja. Ijazah S2 ku memang masih rapi tersimpan dilemari. Cita-citaku ingin menjadi dosen masih tertunda. Angan-anganku lanjut study S3 masih jauh melayang.

Semua itu karena aku mencintai anak dan suamiku. Gamang biarlah dia terus mengambang hingga waktu yang menenggelamkannya. Jenuh biarlah ia hilir mudik bertandang dalam jiwaku.
Biarlah..biarlah dan biarlah

Yang terpenting aku telah berupaya sebisaku menjadi pelayan terbaik mereka. Dalam diri masih ada keyakinan suatu saat nanti aku pasti bisa menjadi ibu rumah tangga yang handal. Handal mengatur rumah, handal menjadi pendidik, dan kreatifitasku akan eksis diluar sana. Aku yakin dan yakin. Karena kekasihku(suami) selalu mendukung cita-citaku.






Senin, 01 Juni 2015

3 Tips Cantik dari Dapur




Dewasa ini masyarakat kita sering dimanjakan produk-produk perawatan tubuh yang instan dan memiliki komposisi kimiawi yang berlebih. Tidak jarang uang yang dikeluarkan untuk membeli produk kecantikan  tersebut tidak memberikan perubahan apapun. Bahkan sebaliknya menimbulkan efek samping seperti alergi, jerawat dan sebagainya. Jikapun memberi perubahan malah menjadikan ketergantungan. Nah, berikut beberapa  tips cantik  dari dapur yang mudah dilakukan dan murah meriah.

1. Air cucian beras
Bukan rahasia lagi kalau air cucian beras merupakan resep kuno dari nenek moyang yang umum digunakan untuk merawat wajah agar sehat dan menawan. Hal ini selaras jika dilihat secara ilmiah. Dimana air cucian beras mengandung protein, vitamin dan mineral yang ikut larut saat dicuci. Terutama kandungan vitamin B1 (Thiamine), merupakan antioksidan yang mampu melawan efek  penuaan akibat kerusakan sel. Selain itu, air cucian beras juga bermanfaat untuk mencerahkan wajah dan meyamarkan noda bekas jerawat. Caranya pun cukup mudah dengan membasuhkan air cucian beras pada wajah hingga mengering kemudian dibilas dengan air bersih( untuk tipe kulit kering), untuk kulit yang tidak tergolong kering sebelum membasuhkan ke wajah lebih baik didiamkan semalam kemudian di aduk hingga endapan tercampur kembali. Adapun untuk penggunaam sebagai masker. Air cucian beras didiamkan terlebih dahulu semalaman, kemudian ambil endapannya dan jadikan masker wajah. Setelah 15 menit ( masker mengering) cuci wajah dengan air bersih. Lakukan secara rutin 3 kali dalam seminggu untuk mendapatkan wajah cerah dengan hasil maksimal.

2. Teh basi
Cantik dari dapur dengan teh basi belum banyak diketahui sebagian orang. Mungkin karena kata "basi" lebih menekankan kepada sesuatu yang sudah tak layak konsumsi atau pakai. Tapi sebenarnya teh basi memberikan dampak positif bagi kulit maupun kulit wajah. Ini dikarenakan perendaman teh hingga 24 jam melarutkan komponen penting dari teh tersebut. Misalnya, kandungan antioksidan. Nah, tips ini bisa dimulai dengan menyeduh teh sebagai minunan tanpa menambahkan gula. Kemudian sisa serbuk teh atau kantong teh tersebut ditambahkan air dan didiamkan hingga menjadi basi. Setelah menjadi teh basi bisa digunakan  sebagai pencuci muka di pagi hari dan dapat dijadikan scrub  yang bermanfaat untuk mengusir komedo, jerawat,  mengangkat sel kulit mati, flek hitam dan menghaluskan kulit. Biasanya saya selalu menyimpan kantong teh di dekat tempat pencucian piring. Dimana setelah mencuci sering kali saya mengosok-gosokan teh ke telapak tangan dan hasilnya telapak tangan tetap halus walau sering kontak dengan air dan sabun penyebab tangan kering dan kasar.

3. Ampas kopi
Kopi merupakan minuman favorit bagi sebagian orang dalam suasana santai. Bahkan dijadikan teman saat bergadang. Tahukah anda? ampas kopi ternyata baik bagi kesehatan dan kecantikan kulit. Kandungan kafein yang tinggi dari kopi mampu menghilangkan selulit. Hal ini dikarena kafein dapat mendehidrasi sel-sel lemak. Ampas kopi juga bisa mencerahkan wajah. Cukup dengan menambahkan minyak zaitun dan bubuk bengkoang, kemudian digunakan sebagai masker selama 15 menit hingga mengering. Setelah itu cuci bersih dan lakukan 3 kali seminggu.
Selain itu, ampas kopi juga bermanfaat untuk mengangkat sel kulit mati dan menghaluskan kulit.  Cukup dengan mengosokan (scrub) ampas kopi ke siku dan lutut atau kebagian tubuh yang dirasa kering dan kasar.  Adapun gula yang terkandung pada ampas kopi sejauh ini tidak mempengaruhi khasiat kopi. Sehingga ampas kopi sisa minuman baik untuk perawatan kulit.

Sumber foto: www.google.com
Selamat mencoba^^
"Menebar manfaat dengan seuntas kalimat"

Minggu, 26 April 2015

Sebab – sebab timbulnya penyakit pada diri seseorang


Sedikit ulasan dari Buku Pola Makan Rasulullah by Prof. Dr. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid
Secara teoritis penyakit muncul pada tubuh kita disebabkan oleh enam hal yaitu:
1.       Udara, udara terdiri dari unsur-unsur gas dan yang paling penting adalah oksigen. Setiap kali volume oksigen di udara berkurang maka berkurang pula manfaat udara tersebut. Oksigen berfungsi untuk oksidasi komponen-komponen makanan yang kita cerna, biasa disebut “asimilasi makanan”. Namun, di era seperti ini udara yang kita hirup sudah banyak tercemar unsur gas lainnya seperti CO2 dan CO (karbon monoksida) berasal dari asap kendaraan dan juga pabrik. Ini dapat memicu timbulnya penyakit paru-paru, alergi udara kronis,, kanker paru-paru dan tenggorokan. Bahkan penelitian modern  telah menegaskan kekurangan oksigen menjadi factor yang sangat penting menimbulkan penyakit kanker. Jadi, jangan heran jika di kota-kota besar di Indonesia penyakit kanker bukan hal asing lagi.

2.       Apa yang diminum dan dimakan. Nasi panas plus sambal dan tempe, ayam atau ikan goreng alias lalapan adalah mayoritas favorit rakyat merah putih. Selain itu, bakso panas dipadukan dengan es teh atau minuman dingin lainnya sudah menjadi menu kesayangan disertai derajat pedas dari cabe yang membuat keringat ikut memeriahkan. Itulah secuil pola makan yang umum dilakukan tapi berdampak buruk bagi kesehatan. Dimana sunah Rasulullah dalam memakan makanan yang tidak panas dan tidak memakan makanan atau minuman panas dan dingin dalam waktu bersamaan sudah tidak dihiraukan lagi demi meneguk rasa nikmat dalam menyantap hidangan. Jika pola makan seperti ini dilakukan terus menerus maka bisa mengacaukan stabilitas temperature tubuh dan kondisi organ pencernaan sehingga kemampuan tubuh dalam menyerap unsur-unsur makanan ikut terganggu.  Jadi, jangan heran sakit lambung, radang tenggorokan, dan penyakit pencernaan lainnya ada diri kita. Bukan hanya karena makan tidak teratur tapi pola makan kita yang tidak ikut aturan.
3.       Aktivitas fisik, tubuh yang aktif bergerak menimbulkan kehangatan sementara diam membuat tubuh menjadi dingin. Adapun suhu tubuh yang dingin membuat kemampuan mencerna makanan tidak maksimal.
4.       Aktivitas psikologis; berupa marah, sedih, bahagia, cemas , malu dan lain sebagainya. Adapun kemarahan pada hakikatnya akan memanaskan tubuh kita sekaligus mengeringkannya. Dalam kondisi marah pada seseorang akan berpengaruh pada tensi darah yang menyebabkan beberapa penyakit berbahaya seperti serangan jatung, nyeri dada, lemah jantung dan bahkan jika berlangsung terus menerus menyebabkan penyakit diabetes. Sementara itu kegembiraan dapat menguatkan jiwa sekaligus memberikan kehangatan pada tubuh. Tetapi, jika berlebihan akan mematikan jiwa.
5.       Tidur dan Terjaga; kebutuhkan akan tidur sama halnya dengan kebutuhan pada makanan dan minuman. Saraf, otak serta otot akan beristirahat saat kita tertidur  setelah terkuras dan dibebani berbagi beban dan masalah kehidupan. Jika kecukupan tidur tidak terpenuhi makan mengakibatkan kerusakan pada kekuatan mental,insomnia, keletihan, serta ketegangan pada otak dan saraf. Sehingga tidur yang cukup dan nyenyak akan memberikan manfaat lebih banyak bagi tubuh. Sebaliknya, jika tidur terlalu lama akan membuat tubuh menjadi lemas dan malas.
6.       Kondisi bebas dan terpenjara. Seseorang yang hidupnya terlalu bebas akan kurang bahagia karena hidupnya cenderung tidak terarah. Sementara orang yang hidupnya terlalu dikekang pun demikian akan cenderung sakit-sakitan. Oleh karena itu, pertengahan dari keduannya adalah lebih baik dan bermanfaat untuk menjaga kesehatan.

Jeng Risma VS Bro Ahok : lokalisasi


Jeng Risma: Bro.. denger-denger loe mau buka lokalisasi di Jakarta ya?
Bro Ahok: Iya jeng, emang napa?
Jeng Risma: sukses yach..(*smile)
Bro Ahok : Lah..ko malah sukses? Bukannya loe malah menutup lokalisasi.
Jeng Risma : iya emang, kan gue sengaja gulung tikar ni. Moga aja loe sukses gulung tikar kayak gue

Bro Ahok: iihh,, gue kan belum buka kok dah di doain tutup sih.
Jeng Risma: Aduh bro,, loe tu gak tahu apa pura-pura gak tahu ya? Di Jakarta kan dulu sudah ada tu yang namanya lokalisasi. Trus ditutup sama Senior loe. Gue orang Surabaya aja tahu. Eh lupa loe kan bukan orang jakarte ya. Pantesan lo gak eman sama tu kota
Bro Ahok : Sebenarnya gue mau buka tu lokalisasi untuk memusatkan aktivitas prostitusi di satu tempat. Biar nggak berceceran kemana-mana gitu atau kayak tren sekarang via online.
Jeng Risma: Hohoho…bisa dibilang ide loe cemerlang. Cemerlang untuk menyuburkan perbuatan maksiat. Gue Tanya nih. Emang loe bisa mastiin dengan pembukaan lokalisasi baru menyelesaikan masalah?. Bisa mastiin prostitusi di area pemukiman warga bisa hilang?. Para psk itu udah semakin dicerdaskan oleh keberadaan internet. Lah..buat apa mereka rempong masuk ke kampong lokalisasi dan harus bayar pajak serta dapat potongan dari murcikari. Mending online lah. Hasil bisa lebih besar dan gak pake target/perhari. Sak mampu ae lagian bisa lebih bebas.
Bro Ahok : Hey jeng, seperti orang mau bab. Kalau nggak dipusatkan pada satu tempat maka bisa berabe dan merusak bukan.
Jeng Risma : Hey..hey.. ini bukan bab yang tiap hari alamiah harus dikeluarkan. Ini sex, bukan masalah dikeluarkan atau tidak tapi ini masalah nafsu. Bab gak perlu nafsu untuk mengeluarkannya tapi kebutuhan  untuk sehat dengan mengeluarkanya. Lah tu sex, control nafsu yang menjadi peran demi tercipta kesehatan. Bukan malah loe buka ladang  nafsu bro. Trus loe panen tuh hiv dan penyakit kelamin lainnya.
Jeng Risma lagi : Kita ni kan sama2 punya kendali ni bro, walau gue gak setinggi lo sih. Tapi gue kasi saran deh. Jangan sampe orang-orang baik diluar sana memandang lo aneh- aneh. Gue sengaja gulung tikar perbuatan senior jaman dahulu kala karena gue perempuan, bisa ngerasain perihnya tu bagi perempuan (yang terpaksa jadi psk) tapi lo laki-laki bro, bisa aja orang berpikir. Pantesan Ahok buka, la dia laki-laki tahu enaknya aja. Mau lo dibilang begitu. Klo lo masih gak keberatan, ni gue lanjutin. Trus kata orang “Ahok emang bener-bener mau ngerusak jakarte, terang aja itukan bukan kotanya”. Kalau lo masih nyantai aja (jeng Risma sambil menoleh Bro Ahok). Ealaa..loe tidur bro!! Bangun..bangun..balik ke rumah sana. Jangan tidur di warung burjok donk.

Entah apa yang dipikirkan oleh Pak Ahok, mengeluarkan ide yang sungguh bukan jalan keluar tapi malah membuat akar masalah keluar dari kandangnya dan menyebar  serta semakin membesar. Saya pribadi prihatin melihat Jakarta jika pemimpinnya hanya berpikir sepontan dan tidak menganalisis secara global terlebih dahulu. Walau saya bukan orang Jakarte tapi saya juga cinta Jakarta karena Jakarta bagian dari Indonesia.  Saya sebagai perempuan sangat mengerti akan ketidakberdayaan perempuan sehingga itu bukan solusi tapi menjadi lembah hitam dengan semakin tidak dihargai. Bahkan itu bisa membuat si murah-murah (perempuan-perempuan yang malas bekerja tapi ingin hidup enak) semakin menjadi-jadi memperdagangkan diri. 
Terakhir kita patut berterima kasih kepada bu Risma, karena telah menjadi contoh bagi pemimpin di negeri ini dengan keberaniannya menghapuskan dolly dari Surabaya.

Kemaren Miras  
Sekarang Lokalisasi 
Besok..besok.. bisa jadi,
Perjudian 

SEMOGA TIDAK!!!!







Selasa, 21 April 2015

Ibu Mertuaku Emang Beda-da-da..


Ngomong-ngomong mengenai ibu mertuaku pada hari kartini ini. Ada banyak hal special yang bisa menjadi pelajaran sekaligus panutan dari seorang mama, begitu aku biasa memanggil ibu mertuaku. Bermula saat kepergianku ke kota Malang menggunakan kereta api Malioboro Yogyakarta dengan maksud berkunjung ke rumah calon suamiku. Maklum itu kali pertama aku bertemu dengan calon mertua. Padahal undangan pernikahan sudah di cetak. Bayangin aja deh, nikah sebulan lagi tapi calon mempelai wanita belum pernah berkenalan secara langsung dengan calon ibu mertua. Umumnya yang namanya ibu mertua nggak akan mau beli kucing dalam karung. Biasanya akan ada banyak sederet, serentet dan apalah itu mengenai syarat-syarat menantu yang diidamkan. Sehingga sang anak akan pusing tingkat kumbang mutar-mutar mencari bunga yang sesuai keinginan ibunya. Ibu mertuaku emang beda-da-da. Jelas beda, tidak pernah mengenalku, belum pernah bertemu dan tidak mengerti asal usulku. Eh..beliau menyetujui pernikahan kami begitu saja. Terlepas dari kehendak Tuhan lo. Bukan karena anaknya nggak laku-laku, tampang basement, perjaka tua, duda tua atau karena kecelakaan. Bukan itu bro, malah calon suamiku punya fans lo. Usia baru 25 tahun, sedang studi S2 di salah satu univesitas terkemuka di negeri ini, tampangnya bisa dibilang relatif menengah ke atas hehe..(kalau bukan istrinya, siapa lagi yang memuji).
Kembali ke topic semula, ini bukan karena beliau hanya pasrah saja. Sekali lagi bukan, tapi semua ini karena beliau memiliki kepercayaan tinggi terhadap anaknya. Kejujuran yang ditanam dan keluhuran pekerti yang ia semai ke dalam jiwa anaknya selama ini cukuplah menjadi jawaban sederhana “iya, silahkan” untuk pertanyaan putranya dalam mengutarakan keinginan menikahiku. Beliau tidak mengkuatirkan kepribadianku ini seperti apa, mungkin saja bawel, kikir, kedekut, dan lain sebagainya. Beliau menerima aku apa adanya. Sungguh apa adanya, teringat saat suamiku menceritakan komentar  beliau saat pertama kali bertemu denganku. “yan, tangannya sari kecil dan halus”, itu bukan bermaksud memuji lo, tapiii mengambarkan bahwa aku tidak biasa kerja di dapur. Saat tahu itu, makkkk…merona dah mukaku. Mualuuu pooollll, ketahuan deh nggak biasa cuci-cuci, masak dan kerjaan lainya. Tahunya Cuma menghadap laptop hehe.. Aku baru menyadari kalau ternyata ibu mertuaku mengamati hal itu karena ingin menyesuaikan keadaan di rumahnya dengan kondisi ku yang serba asing di dapur. Beliau sungguh menerimaku apa adanya, bahkan aku tidak diperbolehkan mencuci piring dan menyapu setelah resmi menjadi menantunya. Bayangi deh, dapat mertua kayak begini siapa yang nggak hore-hore. Eit, tapi aku tetap melakukannya.
Satu dari banyak hal yang membuat beliau layak menjadi panutan bagiku. Ternyata oh ternyata, dua hari setelah pernikahan kami suamiku menceritakan semua lika-liku sebelum menikahiku. Tepanya tiga bulan sebelum pernikahan kami. Keluarga mereka ditimpa musibah besar yang sebelumnya belum pernah terbayang oleh mereka. Saking besarnya suamiku hendak membatalkan pernikahan kami. Sedangkan bapak mertuaku hanya bisa pasrah. Di sisi lain, aku lagi heboh dan rempong dengan urusan persiapan pernikahan  mulai souvenir, undangan dan kawan-kawannyalah. Suamiku saat itu yang masih menjadi calon suamiku begitu putus asa dengan musibah yang melanda finansial keluarga mereka. Musibah ini muncul karena tingkah orang-orang yang hanya mengambil keuntungan tanpa sedikitpun bertanggung jawab. Sehingga mereka yang tidak tahu apa-apa harus menerima perihnya. Tapi ibu mertuaku emang beda-da-da, beliau teguh dalam deraian air mata. Terlihat seperti anomali, mengapa teguh beriringan dengan air mata?. Air matanya mengalir karena begitu berat masalah yang melanda seakan membeku tak mudah untuk dicairkan. Sedangan keteguhan ini karena dalam perih beliau tetap menghujamkan azam anaknya untuk terus melanjutkan pernikahan. Beliau mengokohkan anaknya untuk tak mundur ditengah jalan walau apapun terjadi. Bukan hal mudah bagi mereka, dalam jeratan masalah yang menghadang untuk melanjutkan pernikahan yang bisa di bilang membutuhkan dana lebih. Sedikit info, aku berasal dari luar jawa yaitu dari kota kecil di Pulau Kalimantan. Kabupaten Ketapang-Kalimantan Barat. Untuk mencapai ke kotaku, keluarga mereka harus naik turun pesawat (transit). Dari Malang ke bandara Juanda di Sidoarjo, kemudian transit ke Yogyakarta, transit lagi ke Pontianak baru kemudian mendarat ke Kotaku.
Entah bagaimana usaha beliau berjuang untuk terus melanjutkan pernikahan anaknya, walaupun rasa malu tidak terkira karena sesisi kampung membicarakan mereka. Lebih tragisnya, anaknya yaitu suamiku dituduh  sudah menghamili calon istrinya. Karena para tetangga memandang beliau begitu nekat menikahkan anaknnya dalam kondisi seperti itu.
Keteguhan dan ketulusan beliau menjadi panutan dan contoh Kartini di era sekarang ini. Bagaimana tidak, dalam derita dan cobaan yang berat beliau tetap berusaha menjaga kehormatanku, keluargaku dan perasaanku sebagai calon mempelai wanita. Seperti kita ketahui, pernikahan yang gagal dilaksanakan akan sangat menyakitkan bagi pihak wanita dan keluarganya apalagi persiapan pernikahan sudah setengah jalan.
Terimakasih mama,, engkau relakan putra satu-satumu kepadaku dalam kondisi serba sulit nan berat. Aku akan selalu berusaha mencintaimu dengan sikap terbaikku sebagaimana aku mencintai putramu.


 I love mama ^^

Sabtu, 11 April 2015

Tua tapi kualitas muda

     
    Ketika aku hendak menutup pagar di pagi ini,tiba-tiba datang  sesosok  yang terbilang berusia lebih dari 60 tahun bahkan mungkin 70 tahunan, berkulit sawo matang  mengenakan celana pendek hitam tanpa baju dan topi mbulak (pudar) serta menggunakan gerobak berkarat berbentuk jaring-jaring  yang berukuran 1 x 2 m. Saat mataku tertuju kepada sosok laki-laki tua itu, dengan spontan ia merespon pandanganku penuh ketulusan yang terukir dari senyumannya sembari menyapa "mbak.."(sambil mengangguk khas orang jawa). Spontan pula ku tersenyum lebar. Ia pun berlalu menuju ke samping rumahku. Tertegun sesaat hati ini (eit..bukan karena jatuh cinta..) melihat semangatnya yang tergambar dari gerak gerik dan langkah kakinya yang kokoh beriringan dengan senyum ketulusan.  Padahal ia ke rumkotku (rumah kotrakan) hendak melakukan pekerjaan kasar alias membersihkan perkarangan yang tidak terawat-wat penuh rumput ilanglang bahkan tanaman liar yang tingginya mencapai 1meter lebih dengan luas area yang menurutku cukup luas dan melelahkan jika hanya  dikerjakan satu orang apalagi sudah berumur.
      Beberapa hari yang lalu saat bapak rumkot memperkenalkan beliau, dalam hati aku bergumam "wow..si bapak rumkot boleh juga pilih orang. tua tapi masih kualitas muda". Mana gak kualitas muda, langkah kakinya termasuk cepat jika dibandingkan dengan seorang pemuda, badannya kecang kurus dan padat yang menyamarkan kerutan (maklum gak pake baju soalnya, jadi bukan salah aku dong).. Selain itu beliau sangat humanis serta ramah. 
      Dalam hati aku berkata " sepertinya  akan dikerjakan sekarang". Segera aku masuk ke dalam rumkot membuatkan segelas kopi. "Lah..masak cuma kopi" ngomong sendiri. "oiya kan ada kue apemnya syiraz, ta pake dulu ya nak besok-besok kita beli lagi". Walau cuma 1 biji tapi lumayanlah buat nemenin si kopi. Kopi jadi, langsung deh ku bawa ke depan dan kuletakan diatas pagar teras sembari mempersilakan kepada beliau. Lagi-lagi beliau senyum lebar dan berkata "iya mbak..". 
     Dari dalam rumah aku mendengarkan aktifitas beliau, terdengar celurit bertemu batu, kayu-kayu tersandar pada dinging rumah, dan lainnyalah. Tapi satu pendengaran yang membuatku terus menyimak aktivitas beliau. Selang beberapa menit orang-orang yang sedang melewati depan rumkot  selalu  saja menyapa beliau " Pak To,," Pak Too bla bla bla". Tidak sampai 2 jam, tralala trilili sebelah rumahku sudah lapang. Wow...ekpress juga. Sekali lagi "tua tapi kualitas muda". "Subhanallah kakek ini..benar-benar dah".

Pak To sebenarnya berprofesi sehari-hari sebagai pengangkut sampah di beberapa tempat, dari rumah ke rumah ia mengambil sampah-sampah yang sudah dibuang para warga ke tong sampah di depan rumah mereka masing-masing. Beliau sudah terbiasa dan mungkin sudah diluar batas biasa berhadapan dengan yang namanya kotor dan bau busuk. Tapi senyumnya, semangatnya, keramahanya yang bersih dan harum bagi orang yang mengenalnya begitu terliat sangat jelas. Ini  berbanding terbalik dengan sampah-sampah yang ia jumpai di kesehariannya. Kadang kita kurang bersyukur, jika berkaca pada Pak To. Bagaimana tidak, saat tukang sampah seperti pak To bersama gerobaknya berpapasan dengan kita, kadang spontan tangan kita menutup hidung atau melangkah lebih cepat agar segera menjauh dari sumber bau. Pernahkah kita sadari, betapa sabarnya mereka menanggung bau dari limbah kita tapi dengan entengnya kita tutup hidung kita dihadapan mereka yang kemungkinan besar menyinggung hati mereka. Jika tidak tahan akan bau dari sampah-sampah itu, lebih baik menahan napas sebentar daripada kita singgung hati mereka yang telah menolong kita mengusir bau dan kotor yang kita hasilkan sendiri. Mungkin senyum ramah dan tulus Pak To sudah terasah oleh keikhlasan dari sikap-sikap seperti itu. 

Pelajaran lain yang dapat kita petik dari seorang Pak To, bekerja keras, cepat, dan ikhlas adalah kunci ke suksesan. Yaa..memang arti sukses untuk seorang Pak To tidaklah sama dengan kita-kita yang mengenyam pendidikan. Tapi satu kesuksesan Pak To yang mahal jika harus dibayar yaitu kesehatan. Lihatlah betapa diusainya yang senja, ia masih kokoh berdiri dan bebas beraktifitas selayaknya pemuda-pemuda. Disisi lain banyak kita jumpai sebagian para lansia sudah tak sanggup beraktifitas bebas. Kerja keras membentuk jiwa yang kuat, jiwa yang kuat jelas akan menghasilkan yang namanya sehat. Karena sehat dapat distimulus oleh optimis, rasa senang dan ikhlas. Dari mana asal optimis seorang Pak To, ialah dari semangat dalam kerja kerasnya yang terpancar oleh gerak dan langkahnya, sedangkan rasa senang terpancar dari senyum tulus dan keramahanya yang tanpa beban. Dan keikhlasannya berasal dari kebersamaan langkahnya dengan gerobak sampahnya yang menapaki sisa-sisa usianya. 

Terimakasih Pak To, kau ajari aku betapa semangat dan senang bukan hanya untuk hal-hal yang harum dan indah semata.