Ada yang pernah mengalami nggak?
Jangan-jangan pernah jadi korban temen yang nawar pake sadis?
Heran mah sama orang yang selalu mikir kalau mau belanja sama temen / kerabat sendiri.
Ihh..mesti dia untung banyak.
Jangan-jangan..harganya mahal. Kan dia dropship, mending aku cari yg murah aja.
Jangan-jangan dia begini dia begitu. Negatif thinking mulu.
Tapi coba, kalau belanja ke mall, ke toko besar atau online shop yang tenar. Malu nawar mah. Malah bangga belanja disana.
Padahal tau nggak sih, yang punya mall, yang punya supermarket atau online shop beken itu. Nggak kenal sama kamu kan. Tapi malah mensejaterakan dengan berbelanja disana. Untuk teman atau saudara sendiri pake mikir,
padahal kalau kamu sakit siapa yang bakalan jenguk?.
Kalau kamu tertimpa musibah, siapa yang care?.
Kalau kamu nikah, atau ada acara-acara dirumahmu. Siapa akan datang?.
Kalau kamu butuh pertolongan, siapa yang kamu ingat?.
Kalau kamu lagi sekarat duit, siapa yang mau ngutangin?.
#sabarbuk
Padahal banyak loh keuntungan belanja di dagangan temen.
Pertama, kamu telah membantunya. Dengan menambah pemasukan baginya. Pahala donk.hehe..
Kedua, kalau barang yang kamu beli cacat atau apalah itu, kamu bisa langsung komplain atau return. Enakan. (Nggak mungkin deh dicueki. Kecuali temenmu emang terkenal jahat). Coba beli di mall. Pas dibuka di rumah ternyata cacat. Hayo..bisa dituker?
Ketiga, kalau dagangannya laris otomatis temenmu semakin sejahtera. Lah yang enak siapa? Ya kita juga kecipratan. Setidaknya kalau lagi tertimpa musibah, ada alternatif pertolongan.
Keempat, eh ternyata kamu ikutan jualan nih. Mungkin produk berbeda. Dan kamu pernah belanja ditemenmu. Otomatis temenmu yang sadar diri. Akan berbalas budi belanja ke kamu juga.
Kalaupun produk dagangan kamu sama dengan dia. Kamu bisa bersinergi bukan bersaing. Misal stok kamu habis, bisa ambil di dia. Atau koleksi dia lebih lengkap. Bisa donk saling melengkapi produk.
Kelima, kalau kamu butuh itu barang segera nggak bisa ditunda seharipun. Tapi uangmu kurang. Bisa donk DP dulu. Sisanya kalau sudah gajian. Coba kalau ke toko apa bisa?
Kesimpulan, jika dagangan temenmu laris manis tanjung kimpul. Dia tidak akan merepotkan kamu loh. Setidaknya dia tidak ada kemungkinan ngutang sama kamu. Coba kalau dia kere dan merugi. Bisa-bisa dia minta pinjaman.
Ayo belanja dengan teman sendiri.
#belanjaditemansendiri
Mau lebaran butuh pakaian butuh bla bla..
Yang punya produk komen dibawah ya. Saya tak jalan ke lapaknya.
Rabu, 18 Mei 2016
Selasa, 15 Maret 2016
Aku merindukanmu
sangat merindukanmu
Sungguh begitu cepat kau pergi
Cepat, sangat cepat
Tiap waktu sangat mudah mengingat dirimu
Hingga menjelang 3 minggu lebih kau pergi. Kau masih begitu lekat di pandangan. Separuh jiwaku telah pergi. Begitu banyak ragam agar bisa rela membiarkanmu pergi.
Tapi, saat sendiri kerelaan itu sirna. Andai aku bisa menukar jiwaku. Nyawaku hanya sekedar berjumpa denganmu. Andai itu bisa, pasti sudah kulakukan. Sungguh aku ingin memelukmu. Dengan erat, dengan cinta, sungguh dengan kerinduaan yang mendalam. Tak pernah, aku merasakan rindu yang begitu hebat.
Hanya air mata pelepas dahaga rinduku.
Bahkan sampai detik ini, aku tak sanggup mendekat ke makammu. Sungguh tak kuat. Aku tak ingin menjadi bebanmu disana dengan ketidak relaan. Tapi itu sulit. Kesendirian memang akan menghancurkan ketegaran.
Tapi aku harus tegar, rela, dan tegak dengan penuh ketabahan.
Karena pasti ibuku jauh lebih rapuh dari diriku.
Ya Allah jagalah ibuku, orang tuaku satu satunya. Jagalah ia dari segala hal yang tidak kami inginkan. Sayangi dia, panjangkan umurnya. Karena hanya padanya sajalah bakti kami bisa tertunai secara nyata di dunia ini. Tegarkan ia seperti Engkau menegarkan batu karang dari terjangan ombak, teguhkan dia seperti engkau meneguhkan gunung sebagai pasak bumi, rahmatilah ia seperti engkau merahmati mahluk mahluk yang tak berdaya.
Mungkin hambamu ini jauh dari kata sholeha, jauh dari ketaatan. Tapi hamba mohon dengan secuil ketaatan yang ada dihati ini.
Mohon sayangi ayahku disana, rahmati ia dan berilah nikmat kubur yang terbaik.
Untuk ibuku, hamba mohon rahmati ia pula, jaga ia dalam kebaikan, lindungi ia dari hal-hal yang membahayakan dan tidak menyenangkan. Kuatkan ia menjalani hidup walau tanpa ayahku. Kokohkan jiwanya agar sanggup melewati rintangan hidup walau jauh dari kami-kami anaknya.
Semoga jarak yang jauh dan alam yang berbeda bukan halangan kami untuk saling mencintai karenaMU. Tetapi membuncahkan rindu yang besar sehingga semakin mudah kami-kami anaknya melantunkan doa untuk mereka.
Jaga Mamak ya Allah
Sayangi Bapak disana ya Allah
Ditulis di ketapang 14 maret 2016. 3 hari sebelum kepulangan ke Semarang.
sangat merindukanmu
Sungguh begitu cepat kau pergi
Cepat, sangat cepat
Tiap waktu sangat mudah mengingat dirimu
Hingga menjelang 3 minggu lebih kau pergi. Kau masih begitu lekat di pandangan. Separuh jiwaku telah pergi. Begitu banyak ragam agar bisa rela membiarkanmu pergi.
Tapi, saat sendiri kerelaan itu sirna. Andai aku bisa menukar jiwaku. Nyawaku hanya sekedar berjumpa denganmu. Andai itu bisa, pasti sudah kulakukan. Sungguh aku ingin memelukmu. Dengan erat, dengan cinta, sungguh dengan kerinduaan yang mendalam. Tak pernah, aku merasakan rindu yang begitu hebat.
Hanya air mata pelepas dahaga rinduku.
Bahkan sampai detik ini, aku tak sanggup mendekat ke makammu. Sungguh tak kuat. Aku tak ingin menjadi bebanmu disana dengan ketidak relaan. Tapi itu sulit. Kesendirian memang akan menghancurkan ketegaran.
Tapi aku harus tegar, rela, dan tegak dengan penuh ketabahan.
Karena pasti ibuku jauh lebih rapuh dari diriku.
Ya Allah jagalah ibuku, orang tuaku satu satunya. Jagalah ia dari segala hal yang tidak kami inginkan. Sayangi dia, panjangkan umurnya. Karena hanya padanya sajalah bakti kami bisa tertunai secara nyata di dunia ini. Tegarkan ia seperti Engkau menegarkan batu karang dari terjangan ombak, teguhkan dia seperti engkau meneguhkan gunung sebagai pasak bumi, rahmatilah ia seperti engkau merahmati mahluk mahluk yang tak berdaya.
Mungkin hambamu ini jauh dari kata sholeha, jauh dari ketaatan. Tapi hamba mohon dengan secuil ketaatan yang ada dihati ini.
Mohon sayangi ayahku disana, rahmati ia dan berilah nikmat kubur yang terbaik.
Untuk ibuku, hamba mohon rahmati ia pula, jaga ia dalam kebaikan, lindungi ia dari hal-hal yang membahayakan dan tidak menyenangkan. Kuatkan ia menjalani hidup walau tanpa ayahku. Kokohkan jiwanya agar sanggup melewati rintangan hidup walau jauh dari kami-kami anaknya.
Semoga jarak yang jauh dan alam yang berbeda bukan halangan kami untuk saling mencintai karenaMU. Tetapi membuncahkan rindu yang besar sehingga semakin mudah kami-kami anaknya melantunkan doa untuk mereka.
Jaga Mamak ya Allah
Sayangi Bapak disana ya Allah
Ditulis di ketapang 14 maret 2016. 3 hari sebelum kepulangan ke Semarang.
Senin, 22 Februari 2016
Rame-rame memeriahkan HUT 1 GANDJEL REL yuk..
Assalamu'alaikum
Dalam rangka memeriahkan 1 tahun komunitas Gandjel Rel. Komunitas blogger se-Semarang Raya yang beranggotakan mulai emak-emak, mbak-mbak, cewek-cewek dan sejenisnya. Mau nggak mau, saya harus ikut memeriahkannya. Apa kata dunia, nimbrung di komunitas tapi nggak turut berpartisipasi.
Bisa dibilang memaksakan diri sih. Ada yang tahu kenapa?. Duh, pengen tutup muka. Karena M (dibaca malas). Gara- gara satu kata itu, blogku terlantar 4 bulan. Bayangkan! Baru aja berstatus pemula dalam dunia blogger. Eh, masih bergaya M pula. Trus mau jadi apa donk diriku ini?.
Ah..jadi lebay.
Yach begitulah apa adanya. Tapi, berbicara masalah dunia blog. Banyak manfaat yang saya rasakan. Mulai cerita nih. Dengarkan ya.. Eh salah, perhatiin maksudnya.
Awalnya saya membuat blog, hanya ikut-ikutan. Ikut siapa hayo? Kalau temen di Gandjel Rel mah sudah nggak asing lagi. Yaitu Mak Irit. Ceritanya begini. Pertengahan tahun 2014, keluarga kecil kami pindah dari Yogyakarta ke Semarang. Sehari-hari aktivitas saya hanya tentang rumah, anak dan suami. Sangat kontras dengan aktivitas saya di Yogya. Dimana kesibukan saya disana sangat beragam. Maklumlah masih berstatus mahasiswa. Lah trus, hubungannya?. Eit tunggu dulu. Setelah waktu bejalan dan bergerak hingga menjelang satu tahun kepindahan kami di Semarang. Saya mendadak labil. Jenuh dengan aktivitas itu-itu aja. Ditambah terbatasnya teman-teman di Semarang. Membuat saya minim sekali berkomunikasi dengan orang lain. Kalau dengan tetangga sekitar saya tetap berkomunikasi tapi ya begitu, ibu-ibu kebanyakan ngomongi orang. Bikin tambah sumpek.
Hingga akhirnya saya sadar kalau emosi saya seperti ombak. Kadang menghantam, kadang lenyap. Dan saya tidak mengerti keadaan itu.Kemudian, iseng-iseng deh googling mengenai ibu rumah tangga yang depresi gitu. Eh keluar deh, blog Mba Rahmi. Nah, mulai dari ketidaksengajaan itulah saya banyak menemukan bahwa yang saya rasakan wajar. Dan ternyata tidak cuma saya yang mengalami.
Saya tertarik sekali dengan blog mba Rahmi. Apalagi temanya itu. Saat saya buka blognya, hal yang terlintas. Ini mah aku banget. Saya pun mulai membongkar isi blog mba Rahmi. Hingga saya menemukan komunitas IIDN semarang, KEB, serta komunitas blog lainnya dan terakhir komunitas Gangdel Rel ini. Sepertinya belum ada sebulan saya di approve sama mba Rahmi di grup FB Gandgel Rel.
Maka dari itu, kalau disuruh nulis kiprah Gandgel Rel atau apa yang dirasakan selama berada dikomunitas. Saya bingung harus menjelaskan apa. Adanya ngawur nantinya. Mending, curhat dong mah (gaya mamah dede, hihi).
Namun, dari curcol ini. Setidaknya saya mengambil makna dibalik manfaat yang tersirat. Bahwa menjadi seorang blogger itu, bisa jadi amal jariyah (masuk surga donk, aamiin allahummaamiin). Menebar manfaat tanpa harus tahu siapa yang memanfaatkannya.
Berkomunitas itu, bukan hanya memperbanyak sahabat tapi juga memperlebar silaturahmi (Panjang umur donk, aamiin).
Dan terakhir nih, nambah ilmu, nambah motivasi nulis dan nambah keluarga.
Apalagi keluarga ini, keluarga yang produktif seperti keluarga Gandjel Rel.
Seperti mereka yang sudah pernah saya jumpai di beberapa event atau kopdar.
Mbak Wati, terimakasih supportnya agar saya terus belajar menulis.
Mba Dian Nafi, menjadi contoh untuk menjadi penulis yang ulet.
Bu Dosen Cantik. Mba Muna dengan semangat menjelajah yang membahana.
Mba Arina, dua kali kita berjumpo di Islamic Book Fair dan Bukalapak. Seperti sudah kenal lama.
Mba Fenti, terimakasih bukunya yang bagus banget.
Mba Nungma, kita belum berkenalan lebih dalam. Alah apaan pake dalam-dalam segala. Di curigain orang mah.
Mba Deww, terimakasih sudah ada bersama Gandgel Rel
Terakhir mba Rahmi, terimakasih atas blognya. Melalui blogmu mba, saya mengenal keluarga produktif dan penuh kehangatan ini. Bahkan untuk cari sangkal putung aja cukup googling di grup WA aja. Sudah banyak jawabannya.
Dan teman-teman Gandjel Rel lainya semoga kita bisa bertemu dan bersua.
Gandjel Rel yang duo pinky aja. Mba Dian Nafi dan mba Nungma dah cabut ( cuma adanya ini, belum sempet minta gambar :D)
"Artikel ini diikutsertakan kegiatan posting serentak dalam rangka ulang tahun Gandjel Rel ke-1”
Dalam rangka memeriahkan 1 tahun komunitas Gandjel Rel. Komunitas blogger se-Semarang Raya yang beranggotakan mulai emak-emak, mbak-mbak, cewek-cewek dan sejenisnya. Mau nggak mau, saya harus ikut memeriahkannya. Apa kata dunia, nimbrung di komunitas tapi nggak turut berpartisipasi.
Bisa dibilang memaksakan diri sih. Ada yang tahu kenapa?. Duh, pengen tutup muka. Karena M (dibaca malas). Gara- gara satu kata itu, blogku terlantar 4 bulan. Bayangkan! Baru aja berstatus pemula dalam dunia blogger. Eh, masih bergaya M pula. Trus mau jadi apa donk diriku ini?.
Ah..jadi lebay.
Yach begitulah apa adanya. Tapi, berbicara masalah dunia blog. Banyak manfaat yang saya rasakan. Mulai cerita nih. Dengarkan ya.. Eh salah, perhatiin maksudnya.
Awalnya saya membuat blog, hanya ikut-ikutan. Ikut siapa hayo? Kalau temen di Gandjel Rel mah sudah nggak asing lagi. Yaitu Mak Irit. Ceritanya begini. Pertengahan tahun 2014, keluarga kecil kami pindah dari Yogyakarta ke Semarang. Sehari-hari aktivitas saya hanya tentang rumah, anak dan suami. Sangat kontras dengan aktivitas saya di Yogya. Dimana kesibukan saya disana sangat beragam. Maklumlah masih berstatus mahasiswa. Lah trus, hubungannya?. Eit tunggu dulu. Setelah waktu bejalan dan bergerak hingga menjelang satu tahun kepindahan kami di Semarang. Saya mendadak labil. Jenuh dengan aktivitas itu-itu aja. Ditambah terbatasnya teman-teman di Semarang. Membuat saya minim sekali berkomunikasi dengan orang lain. Kalau dengan tetangga sekitar saya tetap berkomunikasi tapi ya begitu, ibu-ibu kebanyakan ngomongi orang. Bikin tambah sumpek.
Hingga akhirnya saya sadar kalau emosi saya seperti ombak. Kadang menghantam, kadang lenyap. Dan saya tidak mengerti keadaan itu.Kemudian, iseng-iseng deh googling mengenai ibu rumah tangga yang depresi gitu. Eh keluar deh, blog Mba Rahmi. Nah, mulai dari ketidaksengajaan itulah saya banyak menemukan bahwa yang saya rasakan wajar. Dan ternyata tidak cuma saya yang mengalami.
Saya tertarik sekali dengan blog mba Rahmi. Apalagi temanya itu. Saat saya buka blognya, hal yang terlintas. Ini mah aku banget. Saya pun mulai membongkar isi blog mba Rahmi. Hingga saya menemukan komunitas IIDN semarang, KEB, serta komunitas blog lainnya dan terakhir komunitas Gangdel Rel ini. Sepertinya belum ada sebulan saya di approve sama mba Rahmi di grup FB Gandgel Rel.
Maka dari itu, kalau disuruh nulis kiprah Gandgel Rel atau apa yang dirasakan selama berada dikomunitas. Saya bingung harus menjelaskan apa. Adanya ngawur nantinya. Mending, curhat dong mah (gaya mamah dede, hihi).
Namun, dari curcol ini. Setidaknya saya mengambil makna dibalik manfaat yang tersirat. Bahwa menjadi seorang blogger itu, bisa jadi amal jariyah (masuk surga donk, aamiin allahummaamiin). Menebar manfaat tanpa harus tahu siapa yang memanfaatkannya.
Berkomunitas itu, bukan hanya memperbanyak sahabat tapi juga memperlebar silaturahmi (Panjang umur donk, aamiin).
Dan terakhir nih, nambah ilmu, nambah motivasi nulis dan nambah keluarga.
Apalagi keluarga ini, keluarga yang produktif seperti keluarga Gandjel Rel.
Seperti mereka yang sudah pernah saya jumpai di beberapa event atau kopdar.
Mbak Wati, terimakasih supportnya agar saya terus belajar menulis.
Mba Dian Nafi, menjadi contoh untuk menjadi penulis yang ulet.
Bu Dosen Cantik. Mba Muna dengan semangat menjelajah yang membahana.
Mba Arina, dua kali kita berjumpo di Islamic Book Fair dan Bukalapak. Seperti sudah kenal lama.
Mba Fenti, terimakasih bukunya yang bagus banget.
Mba Nungma, kita belum berkenalan lebih dalam. Alah apaan pake dalam-dalam segala. Di curigain orang mah.
Mba Deww, terimakasih sudah ada bersama Gandgel Rel
Terakhir mba Rahmi, terimakasih atas blognya. Melalui blogmu mba, saya mengenal keluarga produktif dan penuh kehangatan ini. Bahkan untuk cari sangkal putung aja cukup googling di grup WA aja. Sudah banyak jawabannya.
Dan teman-teman Gandjel Rel lainya semoga kita bisa bertemu dan bersua.
Gandjel Rel yang duo pinky aja. Mba Dian Nafi dan mba Nungma dah cabut ( cuma adanya ini, belum sempet minta gambar :D)
"Artikel ini diikutsertakan kegiatan posting serentak dalam rangka ulang tahun Gandjel Rel ke-1”
Senin, 14 Desember 2015
Gagal? Apresiasi diri aja.
Hai mom.. mungkin banyak
dari kita sering merasakan kegagalan dalam hidup. Gagal mengatur keuangan rumah
tangga, gagal managemen waktu sehingga pekerjaan domestic dirumah berantakan, gagal dalam
berbisnis, gagal menyelesaikan studi atau bahkan gagal membuahkan karya.
Kegagalan tersebut akan biasa saja jika kita mampu menyikapinya. Namun jika
kita tidak siap menerima kegagalan dan sulit untuk move on maka
kita akan terjebak di dalamnya. Sehingga sering kali kita memandang diri
seperti orang yang tidak berarti, merasa bodoh bahkan hingga tidak lagi
menghargai diri sendiri. Dampaknya, membuat diri khususnya kejiwaan kita
terpuruk, tidak produktif, sampai terjangkit penyakit negatif thinking dan
mengalami kesedihan yang berlebihan.
Untuk mengantisipasi hal
tersebut saat kegagalan sedang kita rasakan. Bersyukur dan mengapresiasi diri
atas usaha yang sudah dilakukan adalah bentuk penerimaan diri terhadap diri
sendiri, dengan begitu kita akan lebih mampu memperbaiki kegagalan.
Walau gagal setidaknya
kita sudah berusaha mencoba. Dengan mengapresiasi diri maka kita akan mampu
menghargai diri, melihat potensi diri dan mengoptimalkan kemampuan kita dengan
terus belajar dan belajar.
Tidak perlu hal-hal sulit
untuk mengapresiasi diri dalam kegagalan. Misal : membeli buku yang sudah kita target. Setidaknya
dengan membaca dapat memberikan terapi untuk memacu kembali semangat yang redup.
Piknik di Museum Angkut Kota Batu
Saat gagal lolos seleksi finalis lomba inovator KKP
Pergi piknik ke tempat-tempat yang disukai. Dengan piknik mampu membuat pikiran
kembali fresh dan siap bertarung kembali. Merelakskan diri di pusat perawatan
tubuh.
Sumber : www.youngnesia.com
Menikmati makanan kesukaan sambil nonton film terbaru atau sekedar
membebaskan diri dari rutinitas.
Yukz mom.. hargai diri dengan
mengapresiasi diri kita..
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog Nutrisi untuk Bangsa
#Mengapresiasidirisendiri
Rabu, 28 Oktober 2015
Si Betuah Raye dan Grand New Veloz
Ngomong-ngomong mengenai si betuah
raye. Mungkin pada binggung ya Betuah raye itu apaan sih?. Betuah raye itu mobil
kesayangan Bapakku. Mengapa dipanggil betuah raye?. Awalnya ketidaksengajaan saat
pamanku menempel stiker dengan tulisan betuah raye di kaca depan mobil. Makna
kata betuah raye itu sendiri diambil dari ungkapan-ungkapan orang melayu yang menyatakan kabar baik atau keberuntungan
seseorang yang mustahil untuk di dapat atau terjadi.
(Si Betuah Raye dalam sperjalanan ke pelosok kalimantan)
Kembali ke mobil kesayangan Bapak.
Pastinya nggak ada yang nggak kenal mobil satu ini. AVANZA. Siapa sih yang nggak
tau, siapa sih yang nggak pernah lihat ini mobil. Seperti banyak dikatakan orang bahwa Avanza mobil sejuta umat. Coba deh diamati di jalan-jalan. Mobil apa yang
sering kamu jumpai?. Pastinya ya Avanza. Nah Avanza kesayangan Ayahku dibeli pada
tahun 2006 hingga sekarang mobil ini tetap perawan. Panggilan khusus dari temen-temen
Ayah untuk mobil kesayangannya. Loh sudah 9 tahun pemakaian masih dibilang
perawan??. Iya donk, mana nggak perawan. Sampai-sampai beberapa bagian interior
masih rapi dengan sampul plastik asli dari dealer. Jok kursi masih asli dan
semuanya ori dari pabrik. Selain karena Bapak orangnya awetan dan primpen sama
barang. Mobil produksi Toyota ini juga terkenal berkualitas dan mesin yang
tangguh. Jadi yaa.. pantesan temen-temen bapak menyebutnya perawan. Padahal
mobil itu sudah melalang buana melintasi hutan di Kalimantan. Tepatnya di
Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Kapan hari Mamak (ibukku)
berencana akan menjual si Betuah raye dengan alasan yang tidak begitu mendesak.
Orang yang menawar dan minat tidak sedikit. Maklumlah kondisi mobil terbilang very
good untuk ukuran mobil dengan umur segitu. Lagi-lagi Bapak antara mau dan
nggak menjual mobilnya. Beberat hati untuk berpisah dengan si Betuah raye. Karena
sayangnya pake banget sih. Aku menyarankan dijual aja selagi mobil itu masih
bisa dijual dengan harga tinggi. Tapi ternyata Mamak punya ide lain untuk
mencari jalan tengah dengan menawarkannya kepada adek dan adek iparku yang
kebetulan juga lagi hunting mobil. Maksudnya biar bisa terjual namun tetep bisa
dijenguk kalau pas ke Pontianak (arcch…tepuk jidat deh dengan ide Mamak). Ya
mana adekku mau. Pastinya nanti kalau akan memodifikasi tidak akan luput dari
komentar dan kritik apalagi klo modifikasinya gak cocok sama bapak (maklumlah
adek iparku pengennya mobil yang lebih sporty). Oh bisa berabe. Eh tau nggak,
ini mamak ku sampe ngambek lo sama adek. Adek menolak mengambil alih
kepemilikan mobil. Sebenarnya adek iparku ngakuin sih kalau si Betuah raye itu
kondisinya okey banget. Selain membutuhkan mobil yang tangguh untuk aktivitas proyeknya
yang sering ke pelosok desa di Kalimantan barat (Taukan gimana rumitnya jalan-jalan
di pedesaaan Kalimantan). Adek ipar kurang suka dengan interior si Betuah raye
yang berwarna lembut.
Kemudian aku sebagai orang dengan
jalur tengah. Berusaha memberikan
solusi. Aku pikir Bapak yang sayang banget sama si Betuah raye, Mamak berniat
menjual tapi alasannya tidak terlalu mendesak dan Adek berserta Adek ipar
pengen mobil yang tampilannya sporty dan stylish.
Nah… solusinya cuma ada pada GrandNew Veloz yaitu mobil dengan exterior dan interior stylish dan trendy lifestyle. Mungkin buat Mamak jangan dijual dulu deh mobilnya, kasian juga Bapak
barang yang dicintai akan berpindah tangan. Untuk Adek ipar Grand New Veloz
cocok buatmu yang mupeng sama yang gagah, yang sporty, yang ketangguhanya
terbukti lebih dari si Betuah Raye
karena sudah terbarukan. Dan dengan adek membeli Grand New Veloz mamak juga bisa merasakan sensasi mobil dengan
tampilan dan model yang terbaru. Berikut 10 alasan mengapa harus memilih GrandNew Veloz :
(Grand New Veloz)
1. Mobil untuk keluarga stylish ini irit
bahan bakar, after sales service yang bagus dan nilai jual kembali yang relatif
lebih tinggi dari pesaingnya.
2. Tampilan exterior Grand New Veloz yang sporty nan gagah mampu meningkatkan kepercayaan diri.
Baik dalam mendukung lifestyle maupun menerjang perjalanan yang sukar
sekalipun sehingga menjawab kebutuhan adek iparku. Pelek
Veloz memiliki corak machining. Sebagai
varian paling mahal, Veloz dipasangi backdoor garnish dan lampu belakang
model smoke color.
(Exterior Grand New Veloz)
3. Bagian
interior Grand New Veloz lebih gelap (dark gray) menampilkan aura sporty
sekaligus kemewahan sebuah MPV.
4. Dilengkapi
fitur untuk mengatur posisi ketinggian setir (tilt steering) sesuai
selera kita, sehingga membuat nyaman saat mengemudi. Lingkar kemudi dibalut
berbahan kulit yang menambah nuansa mewah.
5.
Selama
perjalanan kita akan mendapatkan hiburan dengan hadirnya system audio baru DVD
USB Aux Bluetooth untuk Veloz 1.5. Selain
itu terdapat kontrol audio di bagian lingkar kemudi Grand New Veloz 1.5.
sehingga tidak perlu rempong untuk memutar volume atau channel radio,
tinggal memencet tombol di sisi kanan setir.
(Interior yang sporty dan stylish)
6.
More
Comfortable Seat dan 3-Point Seat Belt
for Center Passenger. Memberikan kenyamanan dan perlindungan maksimal bagi
keselamatan penumpang dibagian tengah.
7.
Grand
New Veloz memberikan kita kemudahan saat parkir karena sudah dilengkapi kamera parkir.
Yang biasa terdapat pada mobil-mobil mewah lainnya.
(Veloz tampak belakang)
8.
New
Fog Lamp Garnish. Grand New Veloz memiliki lampu kabut yang kece.
9. New
Rear Reflector yang
efektif memantulkan cahaya saat perjalanan di malam hari. Desain gaya dan mengutamakan kepentingan keselamatan.
10. Terakhir mengenai harga. Kisaran harga Grand New Veloz
Rp. 204 juta hingga Rp. 226 juta. Harga Grand
New Veloz terbilang lebih murah jika dibandingkan dengan hadirnya fitur-fitur
yang umum ada pada mobil mewah dengan harga selangit.
Sumber :
http://www.toyota.astra.co.id/product/avanza-veloz/#performance
http://www.astra-toyota.com/2011/11/interior-toyota-all-new-avanza-veloz.html?m=1
http://m.kompas.com/otomotif/read/2015/08/12/1246000/Bingung.Pilih.Avanza.atau
Senin, 05 Oktober 2015
Piknik Ilmiah ala mahasiswa ITP
PIKNIK. Apa yang terlintas oleh kita saat
mendengar kata tersebut?. Tentunya
sistem otak kita akan memberikan signal
positif yang spontan mengambarkan kebahagiaan
dan kesenangan. Begitulah kata piknik
terekam dalam alam bawah sadar sehingga memberikan energi positif pada jiwa
kita. Jadi, tidak terlalu berlebihan jika piknik dikatakan sebagai langkah
kecil untuk mengembangkan diri menjadi pribadi positif. Pribadi positif bermula
dari akal yang sehat. Dr. Ibrahim Elfiky
dalam bukunya “Terapi Berfikir Positif” mengungkapkan akal memiliki kekuatan
untuk menambahkan persoalan menjadi rumit (membesar-besarkan masalah) dan juga
dapat mengurangi persoalan hingga habis. Semua bergantung pada bagaimana kita
mengelola apa yang ditangkap oleh akal dan kemudian direkam oleh alam bawah
sadar kita.
Namun, apabila akal selalu
terpapar oleh rutinitas yang sama dengan cara yang sama sepanjang waktu tanpa
perubahan maka akan membuat alam bawah sadar mengirim informasi yang sama tiap
waktunya sehingga meresponnya sebagai
sesuatu yang membosankan. Kebosanan dapat menimbulkan depresi dan silent
stress yang kadang tidak kita sadari. Hal sederhana seperti piknik inilah
salah satu contoh yang bisa kita aplikasikan, untuk memberikan suntikan positif
pada jiwa kita. Dimana piknik akan menjadi obat atas kebosanan sehingga diri
kita bisa berkembang menjadi pribadi yang lebih positif.
Nah..ngomong masalah piknik yang
membawa energy positif. Kali ini saya ingin berbagi pengalaman saya semasa
masih menjadi mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan UGM. Sebut saja “Piknik
Ilmiah Ala ITP". Yang mana piknik ilmiah ini memberikan kami energy positif
untuk menghadapi persiapan penelitian tesis di semester selanjutnya. Si tesis
yang manis semanis gula jika sudah
dibukukan tapi terkadang seasin garam saat proses penyelesaian.
Teringat saat itu memasuki semester
dua, datang berita gembira penyegar dahaga dari bapak Kaprodi Tercinta DR. Yudi
Pranoto. Beliau mengabarkan akan merealisasikan Field Trip ke Thailand
di akhir semester dua. Wahh…kami semua menyambut bahagia kabar tersebut. Iyah..pada
dasarnya sih itu perjalanan untuk menuntut ilmu. Tapi anak-anak ITP memudarkan
kata menuntut ilmu, malah yang ada hanya
piknik seru, piknik sekelas, piknik keluar negeri. Horeee…
Setelah jungkir balik mengejar
deadline presentasi-presentasi tanpa henti, tugas-tugas makalah, UTS dan UAS
dimana ada yang mulai belajar dari 2
bulan sebelumnya sampe ada yang mengandalkan jurus jitu SKS (sistem kebut
semalam). Akhirnya tiba saatnya melepas lelah sejenak untuk pergi menginjak
negeri tetangga.
Di bis pada narsis, diriku mungkin lagi mandi (miscom itu bikin rempong)
Perjalanan kami pun dimulai, berangkat
dari Yogyakarta menggunakan bis menuju bandara Djuanda, Sidoarjo-Jawa Timur.
Oh..kalau ingat bis mesti paling ingatnya sama daku. Siapa lagi kalau bukan
diriku penyebab terlambatnya keberangkatan bis. Sampe-sampe yang lain sudah
mulai keluar tanduk (hihi,,maafkan daku ya. miscom soal jam, dengernya jam 8.
Eh ternyata jam 7 kurang malah keberangkatnya). Bayangin supir bis bahkan sudah
bertaring. Saat itu taksi kami baru hendak berangkat, diriku dan temen-temen
(Ayu, Mbak Afri dan Mas Ardi) ikut ketiban batu keterlambatan. Mas Ardi dengan
sigap memohon pada supir taksi untuk mempercepat laju taksi. Sesampainya di
tempat yang di janjikan. Oh no, kami
ditinggal oleh bis dengan penuh emosi. Panik, tegang dan harus mengambil
keputusan cepat serta nekat. Nekatnya taksi yang kami tumpangi harus melaju
melewati batas normal kecepatan taksi-taksi pada umumnya (Sumpah kerasa seperti
di film-film balapan). Bagaimana tidak?, bis sudah memasuki daerah Klaten
sedangkan taksi kami masih di Yogya. Mau gak mau, pak sopir menginjak gas mobilnya
gak nanggung-nanggung (Minta ampun, bulu
roma bahkan gak turun-turun dah). Alhamdulillah manuver pak supir taksi yang
keren itu membuahkan hasil. Kami bisa menyalip Bis dan berhenti tepat di
depannya. Kata temen-temen saat itu Mbah Gun orang yang paling terkontrol
emosinya dan calon misua yang paling cemas (hihi..).
Tidak berhenti di situ saja,
ternyata oh ternyata kami sekelas harus ngegembel di Bandara Djuanda.
Dikarenakan pesawat yang akan kami tumpangi berangkatnya besok pagi.
Lesehan di Bandara Djuanda
Detik-detik keberangkat. Pertama
kali keluar negeri, jadi harus narsis dimana pun berada.
Sesampai di atas bandara Bangkok Suvarnabhumi.
Tiba – tiba Ayu berseloroh “wahh…bandaranya kayak ulat bulu”. Aduh tepuk jidat
deh. Imajinasi Ayu mulai melalang buana. Tapi kalau di amatin emang kayak ulat gitu
(sayang tidak diperbolehkan aktifin HP saat itu, jadi gak terdokumentasi deh).
Ndesonya mulai kambuh
semenjak menginjakkan kaki di bandara Thailan Bangkok
Nah, ini yang namanya piknik
ilmiah ala ITP. Menyelam di kolam piknik sambil minum air ilmu. Jadi menuntut ilmunya cuma sambilan.
Hehe.. (versi diriku tentunya).
Di Universitas Kasetsart. Universitas
terbaik di Bidang Teknologi Pertanian di Thailand. Lihat aja di sebelah Gedung
belajar mahasiswa ada pabrik pengolahan makanan modern. Salah satunya
pengolahan permen asam jawa (sebutan di Indonesia), biskuit dan sebagainya.
Incip-incip ala Pak Bondan.
Di perkebunan
Universita Kasetsart.
Produk unggulannya adalah jagung rebus dan susu jagung.
Sumpah dah, susu
jagungnya wueenaakk. Fresh, tanpa pengawet dan tanpa gula. Terbukti. soalnya
diriku beli 2 botol buat di minum di hotel. Eh sesampai di hotel menjelang
malam. Susu jagung tercinta sudah berbau dan harus kurelakan pada tong sampah. Hikz..(lebay..)
Piknik ke perusahaan terkemuka
Caroen Phokpan (CP) pengolahan ayam seperti ayam beku, sosis, nugget dan
sebagainya. Produknya banyak kita jumpai di Indonesia. Selain itu, kami juga
diperlihatkan metode penyembelihan dengan memegang prinsip kehalalan secara
islam. Sayangnya tidak diperbolehkan mengambil foto saat di ruang proses
pengolahan.
Selanjutnya piknik ke
tempat-tempat wisata di Bangkok. Ke kuil dan ke Grand Palace.
Berbelanja ke pasar trandisional
Bangkok dan naik tuk-tuk alias transportasi trandisional. Pasar Chatuchak. Nah
disinilah tiga dara kesasar. Gak tau arah jalan pulang. Di cari orang sak hotel.
Untung punya nasib. Kami tiga dara bertemu dengan mahasiswa asal Indonesia yang
sedang studi di Thailand. Akhirnya kami di beri arahan menuju hotel. Kasus lagiii.
Inilah gaya-gaya yang tak terdefinisikan :
Kalau mau tau si pembuat onar keterlambatan bis, itu tu yang pake pink-pink. hehe..
Sangat merindukan masa-masa itu.
Semoga kedepannya akan diadakan piknik reuni ala alumni. Mungkin tidak perlu keluar negeri selain ongkosnya yang lumayan. Rempong juga kalau bawa anak. Ngampangnya dan alternatif piknik yang gak kalah seru yaitu bisa piknik ke Bogor. Selain dekat, murah, dan tempat wisata yang bertengger disana gak kalah keren lo. Yuk.. liburan ke Bogor. Kota seribu nuansa.
Tulisan ini diikutsertakan dalam "Lomba Blog Piknik Itu Penting” yang di dukung oleh Hotel Padjadjaran Suites Hotel.
Jumat, 02 Oktober 2015
Pentingnya Berbagi Cinta dan Berbagi Manfaat
Hari yang mendung mengiringi kepulanganku bersama suamiku dari kota Ponorogo menuju Yogyakarta. Alhamdulillah, kami telah selesai menunaikan kewajiban kami sebagai sesama muslim, yaitu menghadiri pernikahan salah seorang sahabat karib suamiku. Tanpa disengaja waktu kedatangan kami ke stasiun tepat sekali dengan jadwal keberangkatan kereta Madiun Jaya dengan tujuan akhir Yogyakarta. Padahal sebelumnya sudah pasrah akan naik bis jika tidak ada kereta menuju Yogya (karena pada dasarnya kami tidak mengetahui lokasi terminal). Alhamdulillah Allah maha baik, memudahkan langkah kami untuk pulang.
Di kereta api, sembari mengisi waktu. Aku membaca buku dan suamiku berkutat dengan laptopnya.
Aku mendapatkan beberapa ungkapan bijak dari filsafat kuno mengatakan “ Jika anda mendapatkan rumah sebagai tempat tinggal, anda beruntung. Jika anda mendapatkan sesuatu yang bisa menopang hidup, anda cerdik. Jika anda mendapatkan orang-orang yang bisa hidup bersama dengan saling berbagi cinta, anda bahagia. Jika anda memiliki semua itu, bearti anda orang yang paling bahagia”
Namun, kebanyakan kita tidak menyadari bahwa kita lebih sering melakukan hal-hal yang membuat kita menjauh dari kebahagiaan itu. Seperti halnya gaya hidup orang modern zaman sekarang yang sudah terbiasa memiliki pekerjaan jauh dari tempat tinggalnya dan keluarga. Disamping, itu diiringi dengan rutinitas negatif. Apa rutinitas negatif itu? yaitu melakukan hal yang sama dengan cara yang sama sepanjang waktu tanpa perubahan. Contoh : bangun tidur, minum kopi, sarapan, lalu berangkat kerja, pulang dan tidur. besoknya seperti itu lagi. Aktivitas ini selalu dilakukan setiap hari. Begitu pula setelah pulang dari kerja, ia melakukan hal yang sama. Begitulah ia berkutat dengan rutinitas tersebut hingga hidupnya terasa tak bermakna.
Selain itu, seseorang akan merasa hidupnya tak bermakna manakala rutinitasnya hanya ditujukan untuk diri dan keluarganya saja. Contohnya orang-orang yang berkerja hanya bertujuan untuk kesejahteraa hidupnya saja, ia berpikir dengan bekerja membanting tulang dan dengan keterbatasan kebersamaan dengan keluarga asal berpenghasilan lebih besar akan lebih membahagiakan. Padahal kebahagian itu bukan sekedar segala kebutuhan jasmani terpenuhi akan tetapi kebutuhan abstrak seperti cinta , komunikasi langsung, bercanda, dan bertatap muka jauh lebih berharga.
Dalam sistem otak, pikiran terprogram secara langsung dengan kebahagian seseorang. Saat pikiran dari otak hanya digunakan untuk melakukan hal-hal yang sama dan tanpa ada manfaat untuk orang lain. Maka otak memprogram hal itu dan itu saja. Sehingga hati dan pikiran akan menyimpulkan bahwa itu sesuatu yang membosankan.
Seperti hadist Rasulullah:
"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya."(HR. Ahmad)
So, untuk kamu-kamu yang akan atau sudah berstatus ibu RT (rumah tangga), tentukan tujuan dari rutinitasmu dan apapun yang kamu kerjakan itu adalah bermanfaat bagi orang lain dan membahagiakan orang lain yaitu khususnya suami dan anak-anakmu. Dan jangan lupakan juga, aktivitas sambilan lainnya. seperti berorganisasi dan menuntut ilmu. Berorganisasi membuat diri lebih merasa bermanfaat diiringi dengan bersosialisasi. Memuntut ilmu membuat otak berkembang dan pikiran elastis alias tidak kaku. Sehingga jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan dalam kehidupan. Kita tidak spontan merespons hal tersebut sebagai suatu yang menyedihkan atau ketidaknyamanan tapi dengan ilmu bisa disikapi dengan harapan bahwa hal tersebut tetap ada manfaatnya.
Alhamdulillah kami tiba di yogya dengan selamat dan berbekal makna.
semoga tulisan ini selalu mengingatkanku akan pentingnya berbagi cinta dan berbagi manfaat dikemudian hari.
Jika ada yang kurang berkenan, mohon maaf kami haturkan
semoga bermanfaat
Langganan:
Komentar (Atom)
































